Ilmuwan temukan rahasia mengejutkan di balik kemampuan navigasi burung merpati saat mendung. Ternyata sel imun kaya zat besi di dalam hati berfungsi sebagai kompas!
Burung merpati telah lama terkenal dengan kemampuan luar biasanya untuk kembali pulang ke rumah (homing) meski telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Namun, bagaimana cara burung ini melacak arah dengan begitu akurat tanpa tersesat? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada 28 Mei di jurnal bergengsi Science mengungkapkan jawaban yang mengejutkan: rahasia tersebut terletak pada organ hati mereka.
Para peneliti menemukan bahwa merpati memanfaatkan sel imun kaya zat besi di dalam hati mereka sebagai kompas internal saat cuaca sedang mendung. Di saat sinar matahari terhalang awan, organ inilah yang membantu mereka mengandalkan medan magnet bumi untuk bernavigasi.
Penemuan ini memberikan wawasan baru yang segar mengenai mekanika magnetoreception—kemampuan merasakan medan magnet bumi—yang juga digunakan oleh hewan migran lain seperti penyu, lobster berduri, tikus tahi lalat, hingga paus abu-abu untuk perjalanan jarak jauh.
Sel Imun di Hati yang Bersifat “Superparamagnetik”
“Indera magnet puyuh dan merpati telah menjadi misteri selama satu abad, dan tidak ada yang bisa memecahkan di mana letaknya dan bagaimana cara kerjanya,” ujar Martin Wikelski, ahli zoologi dari Max Planck Institute of Animal Behavior di Jerman. “Sekarang, kami rasa kami telah menemukan solusi yang benar-benar bisa berhasil.”
Dalam studi tersebut, tim peneliti mengambil sampel sel dari paruh, mata, otot, limpa, dan hati merpati. Hasilnya, ditemukan bahwa sel imun kaya zat besi yang disebut makrofag di dalam hati burung dapat memanifestasikan jenis magnet yang dikenal sebagai “superparamagnetisme”.
Clivia Lisowski, seorang imunolog dari University of Bonn, Jerman, menjelaskan bahwa saat merpati melewati medan magnet bumi, partikel bermuatan negatif dalam sel khusus tersebut akan mengatur diri ke arah yang sama, menjadikannya bersifat superparamagnetik. Sel makrofag ini juga berkumpul di dekat serat saraf, memicu kemungkinan kuat bahwa sel hati kaya zat besi ini mengirimkan informasi arah langsung ke otak.
Pengujian Ekstrem: Merpati Kehilangan Arah Saat Sel Hati Dihilangkan
Untuk menguji hipotesis ini, peneliti melatih 34 burung merpati pos yang dipasangi pelacak GPS untuk terbang sejauh 12 mil (sekitar 19 kilometer) kembali ke sarang mereka di Radolfzell, Jerman.
Setelah terlatih, setengah dari kelompok burung tersebut disuntik dengan obat yang mematikan sebagian besar sel makrofag di hati mereka. Seluruh burung kemudian dilepaskan satu per satu pada hari di mana langit tertutup mendung total.
Hasilnya sangat kontras:
-
Burung dengan makrofag hati yang berfungsi normal berhasil pulang ke rumah dalam waktu 70 menit.
-
Burung yang sel makrofag hatinya telah dihilangkan terbang berputar-putar tanpa arah, tersesat total, dan baru bisa kembali ke sarang berhari-hari kemudian saat matahari akhirnya muncul kembali.
Meskipun menuai pujian dan disebut sebagai penemuan yang “luar biasa” (mind-blowing) oleh beberapa ahli ekologi sensorik, studi ini juga memicu skeptisisme. Joe Kirschvink, seorang geobiolog dari Caltech, mengaku belum sepenuhnya tulus teryakinkan dan meminta bukti yang lebih langsung bahwa makrofag merpati benar-benar bisa mendeteksi medan magnet yang relatif lemah.
Para peneliti sendiri tidak menampik kemungkinan bahwa merpati memiliki lebih dari satu metode navigasi, seperti protein sensitif cahaya di mata atau mineral magnetik di paruh mereka, yang bekerja bergantian tergantung tingkat presisi dan kondisi cahaya di lapangan.
Analisis: Relevansi Sains Modern bagi Komunitas Pecinta Merpati Lokal
Penelitian internasional berskala besar ini memiliki daya tarik dan nilai praktis yang tinggi jika dikaitkan dengan konteks budaya dan hobi masyarakat di Indonesia:
1. Penjelasan Ilmiah di Balik Tradisi “Merpati Kolongan” dan Balap Merpati Pos
Di Indonesia, hobi memelihara dan melombakan merpati—mulai dari balapan merpati pos jarak jauh hingga kompetisi ketangkasan “Merpati Kolongan” atau “Tinggian”—merupakan tradisi rakyat yang sangat populer dan bernilai ekonomi tinggi. Selama ini, para penghobi lokal mengandalkan intuisi, garis keturunan, dan latihan fisik intensif agar burung andalan mereka pintar pulang ke kandang. Penemuan bahwa “kompas” merpati berada di organ hati memberikan pemahaman ilmiah baru bagi komunitas lokal mengapa kesehatan organ dalam burung (bukan cuma sayap dan mata) memegang peranan vital dalam menentukan performa navigasinya di angkasa.
2. Pengaruh Cuaca Tropis Pancaroba terhadap Akurasi Navigasi Burung
Indonesia sering kali mengalami cuaca pancaroba ekstrem, di mana langit cerah bisa seketika berubah menjadi mendung pekat berawan karena kelembapan tropis. Berdasarkan temuan jurnal Science ini, pelepasan merpati pos untuk lomba jarak jauh pada hari yang mendung akan memaksa burung mengaktifkan mode navigasi berbasis medan magnet melalui makrofag hatinya. Jika merpati lokal sedang dalam kondisi tidak fit atau mengalami peradangan pada organ dalamnya (yang mengganggu fungsi sel makrofag), risiko burung andalan tersesat dan hilang arah di tengah hutan atau perkotaan Indonesia akan meningkat drastis jika dilepaskan saat cuaca mendung.
3. Tips bagi Penghobi: Pentingnya Menjaga Kesehatan Organ Dalam Burung
Mengingat fungsi penting sel makrofag (sel imun) di hati sebagai pendeteksi navigasi cadangan, para pencinta burung merpati di Indonesia perlu mengalihkan perhatian pada pemenuhan nutrisi yang mendukung fungsi hati dan imunitas burung. Pemberian pakan berkualitas yang kaya akan mikronutrien, mineral zat besi yang seimbang, serta suplemen pelindung hati (liver protector) alami bisa menjadi strategi perawatan baru untuk memastikan sistem “kompas internal” si burung tetap prima, baik saat langit Indonesia sedang cerah benderang maupun mendung berawan. Source

